Sabtu, 21 November 2009

Menggendong Bayi Bisa Membuat Cerdas




Filed under: Child Education — by myhealthylife @ 4:27 pm

Untuk bayi yang sering digendong, sering timbul istilah“bau tangan”. Para ibu muda yang baru memiliki bayi sering dinasihati jangan terlalu sering digendong, nanti membuatnya manja. Sebenarnya, keinginan bayi untuk digendong merupakan hal yang alami.

Selama sembilan bulan dalam kandungan ibunya, seorang bayi seolah berada dalam ayunan. Sehingga ketika lahir, dia mencari kenyamanan yang sama dengan digendong. Menurut Karen Sokal-Gutierrez, MD, staf pengajar School of Public Health, University of California Berkeley, bayi di bawah usia tiga bulan memang terlihat sangat membutuhkan bantuan orang yang ada disekitarnya.

Berbagai kajian ilmiah menunjukkan, ketika bayi-bayi menangis segera digendong dan diperhatikan kebutuhannya, timbullah perasaan aman. Stres dan kecemasannya berkurang dan akhirnya, bayi menangis lebih sedikit. “Jadi menggendong bayi yang menangis itu bagus, tidak akan memanjakannya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gutierrez yang juga Ketua Komisi Early Childhood Adoption and Dependent Care pada American Academy of Pediatrics itu menjelaskan, sebagian dokter ahli anak menyebut periode tiga bulan pertama hidup bayi sebagai ‘trimester keempat kehamilan’. Bayi-bayi muda akan merasa lebih nyaman di dalam lingkungan yang mirip rahim ibu, tempat di mana mereka selalu didekap erat, selalu hangat dan diayun-ayun. Maka secara alamiah mereka merasa aman dan nyaman jika digendong, dibedong dan ditimang.

Tapi, setelah usia tiga bulan, bayi-bayi ingin sedikit mandiri. Mereka masih senang digendong, tapi kadang tertarik juga mengamati dan menjelajah sekitar. Bayi usia empat bulan bisa ditelentangkan supaya menggerak-gerakkan lengan dan menjangkau kakinya. Atau, ditengkurapkan supaya berlatih mengangkat kepala dan dada.

Dia menekankan, setiap bayi dan orangtua berbeda. Ada bayi yang perlu segudang perhatian, ada yang senang tidur melulu atau main sendiri. Ada orangtua yang tak bosan-bosannya menggendong bayi, ada yang ingin bayinya belajar mandiri dengan bermain dan tidur sendiri. Budaya yang berbeda punya kebiasaan berbeda pula. Para orangtua perlu menetapkan apa yang cocok dan paling memungkinkan untuk mereka dan bayinya.

Pam Leo, seorang parent educator di Gorham, Maine, Amerika Serikat mengungkapkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang digendong sepanjang waktu, dan terpenuhi semua kebutuhan-atas-sentuhannya sepanjang tahun pertama tidak menjadi bayi yang lengket atau terlalu tergantung pada orang. Sebaliknya bayi-bayi tersebut lebih jarang menangis, tumbuh lebih bahagia, lebih cerdas, lebih mandiri, lebih penuh kasih dan lebih ramah ketimbang bayi-bayi yang kebanyakan ditaruh di kursi, di buaian, di tempat tidur atau di alat bantu lainnya yang tak memerlukan kontak dengan manusia.

Menggendong bayi juga diyakini sebagai bagian vital dari rencana biologis alam dalam menciptakan ikatan kasih sayang ibu-bayi, serta amat penting bagi pengembangan kepercayaan, empati, belas kasih dan hati nurani. “Penelitian menegaskan menggendong bayi manusia mengembangkan kecerdasan dan kapasitas bayi dalam hal kepercayaan, kasih sayang, keintiman, cinta dan kebahagiaan,” tuturnya. (rin)

Jenis Imunisasi yang Diwajibkan dan Dianjurkan

Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalimat ini cocok benar untuk menggambarkan fungsi imunisasi. Tetapi, mengapa orangtua masih kerap abai dengan tindakan penting ini? Mana sajakah imunisasi yang wajib, dan mana pula yang tidak?

Banyak orangtua yang menyesali kelalaiannya ketika anak sakit. Tahun lalu, misalnya, orangtua panik karena banyak anak di Indonesia terkena Polio. Sampai-sampai pemerintah perlu mencanangkan “Indonesia Bebas Polio”. Peristiwa itu seakan “membangunkan” kita akan pentingnya imunisasi, terutama bagi balita.

articles_printing_xviii_987_pictures_28244_28244-w200.jpg Khusus untuk infeksi, menurut Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, SpA(K) dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, tren di dunia bukan lagi soal pengobatan, tapi pencegahan. “Kalau kita tunggu anak sakit dulu, biayanya jadi tinggi sekali. Belum nanti antibiotikanya enggak mempan, kita harus pakai antibiotik yang makin canggih, sehingga tentunya makin mahal. Belum lagi harus dirawat di rumah sakit, bahkan sampai orangtuanya enggak bisa kerja. Kalau semua itu dihitung-hitung, jauh lebih mahal dari biaya vaksin,” ujar Sri.

Sesuai dengan program organisasi kesehatan dunia WHO (Badan Kesehatan Dunia), pemerintah mewajibkan lima jenis imunisasi bagi anak-anak, yang disebut Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Sedangkan tujuh jenis lainnya dianjurkan untuk menambah daya tahan tubuh terhadap beberapa jenis penyakit. “Wajib itu artinya semua anak yang tinggal di Indonesia wajib diberikan lima jenis imunisasi untuk mencegah tujuh jenis penyakit,” kata Sri yang juga Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Apa saja, sih, imunisasi wajib tersebut?

BCG
Vaksin BCG diberikan pada bayi sejak lahir, untuk mencegah penyakit TBC. Jika bayi sudah berumur lebih dari tiga bulan, harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. BCG dapat diberikan apabila hasil uji tuberkulin negatif.

Hepatitis B
Hepatitis B diberikan tiga kali. Yang pertama dalam waktu 12 jam setelah lahir. Imunisasi ini dilanjutkan saat bayi berumur 1 bulan, kemudian diberikan lagi saat 3-6 bulan.

Polio
Imunisasi yang satu ini belakangan sering didengung-dengungkan pemerintah karena telah memakan korban cukup banyak. Target pemerintah membebaskan anak-anak Indonesia dari penyakit polio. Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya vaksin ini diberikan 3 kali, saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian vaksin ini dulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

DTP
DTP diberikan untuk mencegah tiga macam penyakit sekaligus, yaitu Difteri, Tetanus, dan Pertusis. Vaksin ini diberikan pertama kali saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Lalu saat bayi berumur 4 dan 6 bulan. Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Pada anak umur 12 tahun, imunisasi ini diberikan lagi dalam program BIAS SD kelas VI.

Campak
Campak pertama kali diberikan saat anak umur 9 bulan. Campak-2 diberikan pada program BIAS SD kelas 1, umur 6 tahun.

Ketujuh penyakit tersebut harus dicegah dengan imunisasi secara wajib. Mengapa? “Karena penyakit-penyakit tersebut yang menimbulkan kematian, cacat, serta pasiennya juga paling banyak.” Setiap negara akan berbeda apa yang diwajibkan, tergantung kondisinya. “Misalnya TBC, di Amerika mungkin sudah enggak ada TBC, jadi anak-anak di sana enggak perlu lagi dikasih imunisasi BCG. Begitu juga jika kita membawa bayi ke New York, misalnya, Pneumokokus mungkin menjadi wajib di sana,” jelas Sri.

Kondisi Harus Fit
Selain tujuh penyakit yang wajib dicegah, ada penyakit-penyakit lain yang bisa dicegah dan ada imunisasinya. “Yang ini sifatnya dianjurkan, tergantung orangtuanya.” Kalau yang wajib, pemerintah memberikan secara cuma-cuma, jika datang ke instansi kesehatan yang ada di pemerintah, misalnya rumah sakit pemerintah, posyandu, dan puskesmas, kecuali ke dokter swasta, ya, harus bayar. “Tapi kalau yang dianjurkan, tidak diberikan secara cuma-cuma,” ujar Sri. Vaksin-vaksin tersebut adalah Hib, Pneumokokus (PCV), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela.

Hib dan Pneumokokus (PCV) mencegah penyakit paru-paru dan radang otak. Vaksin diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval dua bulan, sebanyak 3 kali. Imunisasi Hib kemudian diulang saat anak berumur 15-18 bulan, sedangkan PCV diulang saat anak berusia 12-15 bulan.

Vaksin Influenza dapat diberikan setahun sekali sejak umur 6 bulan. Vaksin ini dapat terus diberikan hingga dewasa. MMR merupakan pengulangan vaksin campak, ditambah dengan Gondongan dan Rubela (Campak Jerman). Diberikan saat anak usia 15 bulan dan diulang saat anak berusia 6 tahun.

Tiga vaksin lain yang dianjurkan adalah Tifoid untuk mencegah Typus, Hepatitis A, dan Varisela untuk mencegah penyakit cacar air. Tifoid dan Hepatitis A diberikan pada anak usia di atas 2 tahun. Tifoid dapat diulang setiap 3 tahun, sedangkan Hepatitis A hanya diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan. Varisela mulai diberikan saat anak berusia di atas 10 tahun.

Anak yang akan mendapat imunisasi harus dalam kondisi sehat. Menurut Sri, imunisasi diberikan dengan memasukkan virus, bakteri, atau bagian dari bakteri ke dalam tubuh, dan kemudian menimbulkan antibodi (kekebalan). Untuk membentuk kekebalan yang tinggi, anak harus dalam kondisi fit. Anak yang sedang sakit, misalnya diare atau demam berdarah, badannya sedang memerangi penyakit. Jika dimasukkan kuman atau virus lain dalam imunisasi, maka tubuhnya akan bekerja sangat berat, sehingga kekebalan yang terbentuk tidak tinggi. “Tapi kalau penyakit ringan seperti batuk-pilek biasa, enggak apa-apa. Kecuali batuk-pilek dengan demam tinggi, ya, jangan. Kalau diare-diare sedikit, juga enggak apa-apa,” jelas Sri.

Yang sangat berbahaya, menurut Sri, jika anak memiliki kekebalan tubuh yang rendah. Misalnya anak itu kena AIDS, atau penyakit berat lain seperti kanker. Berbahaya juga jika anak tengah meminum obat-obat khusus yang menurunkan daya tahan. “Itu enggak boleh. Jika ada anak yang mengalami kondisi-kondisi seperti ini, harus menunggu hingga ia sembuh, minimal hingga kondisinya sedang bagus. Jika sedang minum obat, ditunggu hingga obatnya selesai.”

sumber: http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=12992

Sejak dalam rahim bayi sudah merokok

Ada apa dengan judul itu… sungguh suatu yang bombamtis. Kalau saudara pernah melihat satu poster terdapat seorang wanita hamil dengan sebatang rokok yang mengepulkan asap terselip disela-sela jari si wanita itu dan tercetak kata Beberapa Bayi sudah Merokok Sebelum Lahir . merokok selama kehamilan menungkinkan karbon monoksida mencapai fetus dan terpapar beberapa zat racun seperti chadmiun, syanida dan nikotin dan mencetuskan gangguan metabolisme dan kekurangan nutrisi. Akibatnya adalah bayi dengan retardasi pertumbuhan dan sepertiga kasus disebabkan oleh rokok. Merokok berefek langsung pada peningkatan resiko kelahiran prematur dan kematian perinatal. Beruntung, 30 %-40% perokok memilih berhenti atau mengurangi kebiasaan merokok selama kehamilan tapi sisanya 60-70% masih beriko terjadi kekurangan nutrisi yang disangat dibutuhkan dalam perkembangan bayi dalam rahim.

Saat ini menurut WHO didunia ada sekitar 1,1 milyar jiwa adalah perokok. Sekitar 47 % perokok adalah laki dan ada 12 % wanita. Jumlah perokok berkaitan erat dengan usia perokok. Satu perkiraan yaitu ada 27,9% berusia 18 sampai 24 Tahun, diikuti 27,3% perokok berusia 24 sampai 44 tahun, 23,3% perokok berusia 45 sampai 64 tahun dan hanya sekitar 10,5% perokok yang berusia di atas 65 tahun. Relatif rendah jumlah perokok usia tua lebih disebabkan fakta banyak perokok yang mati muda sebagai akibat dari kebiasaan merokok.

Adalah sebuah fakta jika asap rokok tidak hanya mengancam kesehatan perokok itu, tapi juga orang disekitarnya yang dikenal sebagai perokok pasif. Dan untuk di Indonesia, pada tahun 2001 dikabarkan terjadi 3.320 kematian disebabkan karena penyakit yang berhubungan dengan rokok. WHO telah merilis data, bahwa tahun 2030 diperkirakan ada 8,3 juta jiwa meninggal akibat rokok. Bahkan korban keganasan asap rokok akan terus mengancam kesehatan masyarkat dunia jika kebiasaan merokok tidak dikendalikan secara dini.

Langkah-langkah mengendalikan kebiasaan merokok . Menerapkan kawasan bebas rokok (KBR) ditempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, ruang proses belajar disekolah , arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum. Menyiapkan fasilitas/ ruangan untuk merokok. Menunda jam pertama mengisap rokok, dan mengurangi kebiasaan merokok di dalam rumah karena bisa merugikan bagi keluarga kita sendiri. Tentu saja kita tidak mau keluarga sendiri mendapat dampak asap rokok akibat kebiasan kita sendiri. Lebih baik merokok diluar rumah daripada didalam rumah walaupun itu dalam kamar yang tertutup rapat sekalipun.